News Update :

Seputar Astronomi

Komputer

Pengikut

Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan

Gerhana Bulan Total (GBT) - 10 Desember 2011

Jumat, 09 Desember 2011

pas tadi lagi sholat jumát di sekolah, ngejelasin tentang kiamat. nah sang khotib ngasih tau nih bahwa saat terjadi gerhana, itu rawan sekali terjadi yang namanya bencana alam. untuk kiamat itu sendiri gada yang tau. yang jelas, itu salah satunya. mendengar perkataan seperti itu, saya jadi punya ide untuk bikin postingan tentang gerhana bulan yang katanya akan terjadi malam minggu besok (10 Desember 2011) . saya nyari nyari di googling tentang gerhana esok hari, nah saya dapet dari Penjelajah Angkasa's Blog . nah ini dia reviewnya dari blog penjelajah angkasa.


Apa Itu Gerhana Bulan ?
Gerhana Bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang Bulan tertutup oleh bayangan Bumi. Hal itu terjadi bila Bumi berada di antara Matahari dan Bulan pada satu garis lurus yang sama. Dengan penjelasan lain, Gerhana Bulan muncul bila Bulan sedang beroposisi dengan Matahari.



Bulan diperkirakan membutuhkan waktu 29,53 hari untuk bergerak dari satu titik oposisi ke titik oposisi lainnya. Maka seharusnya jika terjadi Gerhana Bulan, akan diikuti dengan Gerhana Matahari karena kedua node tersebut terletak pada garis yang menghubungkan antara Matahari dengan Bumi.

Berikut macam-macam Gerhana Bulan : 
a. Gerhana Bulan Total : Pada gerhana ini, Bulan akan tepat berada pada daerah bayangan umbra Bumi.
b. Gerhana Bulan Sebagian : Pada gerhana ini, tidak seluruh bagian Bulan terhalangi dari Matahari oleh Bumi. Sedangkan sebagian permukaan Bulan yang lain berada di daerah penumbra. Sehingga masih ada sebagian sinar Matahari yang sampai ke permukaan Bulan.
c. Gerhana Bulan Penumbra : Pada gerhana ini, seluruh bagian Bulan berada di bagian penumbra. Sehingga Bulan masih dapat terlihat dengan warna yang suram.


Bagaimana dengan Gerhana Bulan Total ?
Sebelum kita melihat fenomena astronomi seperti GBT alangkah baiknya kita mengenal terlebih dahulu tentang definisi dari Gerhana Bulan Total. Gerhana Bulan Total ialah tertutupnya penampang Bulan secara keseluruhan (total) karena tertutup oleh bayangan Bumi. Hal itu terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan pada satu garis lurus yang sama (oposisi). Jadi, bisa di katakan sinar Matahari tidak dapat mencapai Bulan sepenuhnya karena terhalang oleh Bumi. 


Apa Perbedaan Bulan Purnama dengan Gerhana Bulan ?
Secara posisi Bulan Purnama hampir sama susunannya dengan Gerhana Bulan. Lalu, apa yang membedakannya? Ternyata kemiringan bidang orbit Bulan terhadap ekliptika sebesar 5.2yang membuat tidak setiap Bulan baru mengakibatkan terjadinya Gerhana Matahari dan tidak setiap Bulan Purnama akan terjadi Gerhana Bulan. Perpotongan bidang orbit Bulan dengan ekliptika akan memunculkan 2 buah titik potong yang disebut node (titik dimana Bulan memotong bidang ekliptika). Gerhana Bulan ini hanya akan terjadi saat Bulan beroposisi pada node tersebut. Sehingga tidak setiap Bulan purnama bisa di katakan Gerhana Bulan Total. Perpotongan dua bidang tersebut membentuk garis yang berputar di dalam periode 18,6 tahun. Artinya, akan terjadi perulangan gerhana yang dinamakan periode saros. Dalam satu tahun bisa terjadi 5-7 kali gerhana baik Matahari maupun Bulan.
Gambar : Fase Bulan Purnama


Apa yang Menyebabkan Warna Merah Pada Penampakan GBT ?
Sebenarnya, pada peristiwa Gerhana Bulan, seringkali Bulan masih dapat terlihat. Ini dikarenakan masih adanya sinar Matahari yang dibelokkan ke arah dalam oleh atmosfer Bumi. Namun lama kelaman sinar tersebut menghilang dan seperti penampakan Bulan baru, Bulan tersebut tidak dapat dilihat secara jelas penampakannya sampai akhirnya ketika memasuki puncaknya (umbra) kita dapat melihat penampakan Bulan yang berwarna merah.

Gerhana Bulan Total akan menghasilkan penampakan Bulan dengan permukaan yang berwarna merah. Hal ini dikarenakan secara bentuk Matahari lebih besar daripada Bumi maka, masih terdapat cahaya Matahari yang masuk di atmosfer dan kemudian dibelokkan ke arah dalam yang akhirnya diterima oleh Bulan. Kebanyakan sinar yang dibelokkan ini memiliki spektrum cahaya merah. Itulah sebabnya pada saat Gerhana Bulan akan tampak berwarna merah tembaga.

Tetapi Gerhana Bulan Total yang kita dapat lihat akhir-akhir ini memiliki warna merah yang lebih gelap hampir menuju ke arah warna merah bata. Hal ini dikarenakan salah satu penyebabnya ialah kualitas udara yang buruk (polusi udara) terjadi di wilayah kita mengamat. Warna yang dihasilkan polusi menyebabkan warna penampakan dari GBT lebih tegas dan lebih gelap.


Bagaimana Cara Mengamati GBT ?
Pada tanggal 10 Desember nanti kita dapat bersiap-siap untuk melihat GBT dimulai sekitar pukul 18.00 hingga 24.00 WIB. Gerhana Bulan dapat kita amati hanya dengan mata telanjang dan tidak akan berbahaya sama sekali. Selain menggunakan mata telanjang, untuk memperjelas penampakan dari Bulan kita dapat menggunakan alat bantuan binokular, teleskop, ataupun jika anda tak sempat keluar rumah dapat menyaksikannya melalui internet (streaming). Jadi silahkan tandai kalender Anda, agar fenomena ini tidak terlewatkan begitu saja.

Bagaimana Cara Membaca Fase GBT ?
Gerhana 10 Desember nanti kita sudah bisa bersiap-siap menyiapkan segala keperluan pengamatan dll. dimulai pukul 18.00 WIB. Bagaimana cara kita melihat kontak yang terjadi pada penampang Bulan? Tentunya kita memerlukan peta ilustrasi yang menggambarkan keadaan tersebut bersama catatan waktunya. Berikut beberapa istilah yang mesti kita ketahui sebelum akhirnya memutuskan menggunakan peta sebagai acuan.

Kontak Awal Penumbra Bumi (P1)
Kontak awal penumbra Bumi atau disebut P1 bisa kita lihat dimulai pukul 18:33:32 WIB. Pada saat itu ditandai dengan masuknya Bulan ke awal bayangan penumbra Bumi. Perubahan yang terjadi adalah berkurangnya kecerlangan dari cahaya Bulan. Namun kita tidak akan dapat membedakannya secara kasat mata. Kecuali memakai teleskop atau peranti elektronik lainnya yang berfungsi membesarkan gambar objek.

Kontak Awal Umbra (U1)
Lalu pada pukul 19:45:42 WIB, Bulan akan masuk ke umbra Bumi (U1). Inilah saat terbaik mengamati gerhana, yaitu ketika Bulan purnama mulai berubah bentuk. Perlahan-lahan tepian Bulan menjadi gelap, seperti bakpao yang di gigit bagian tepinya atau kita sebut sabit sampai akhir berubah penampakannya menjadi gelap semua.

Kontak Total Awal Umbra (U2)
Sedangkan kontak total awal gerhana atau U2 dapat disaksikan pada pukul 21:06:16 WIB. Pada saat puncak gerhana, diperkirakan magnitudonya mencapai 1,1061 sehingga Bulan masih dapat dilihat jelas oleh mata telanjang sekalipun. Di saat inilah penampakkan yang ingin dilihat semua pengamat. Berubahnya Bulan dari yang berwarna gelap berubah sedikit demi sedikt memunculkan warna kemerahannya sampai akhirnya kita akan melihat penampakan Gerhana Bulan Total dengan ciri khasnya yang berwarna merah tembaga (Fase Mid).

Kontak Total Akhir Umbra (U3)
Untuk kontak total akhir Bulan berada di bayangan umbra Bumi sekitar pada pukul 21:57:24 WIB.

Kontak Akhir Umbra (U4)
Sedangkan kontak akhir umbra (U4) memasuki pukul 23:17:58 WIB. Bulan mulai terlihat samar kembali.

Kontak Akhir Penumbra (P4)
Terakhir, Bulan akan berada di penumbra dan mengakhiri gerhananya yaitu sekitar pukul 00:30:00 WIB. Bulan mengakhiri fase gerhana samarnya yang artinya berakhirlah seluruh fase Gerhana Bulan Total terakhir di Tahun 2011 ini.


Keterangan :
Umbra = Bagian gelap
Penumbra Bagian Samar



Berapa Lama Durasi Gerhana Bulan Total ?
Durasi Penumbra = 05 jam, 56 menit, 28 detik.
Durasi Umbra = 03 jam, 32 menit, 17 detik.
Durasi Gerhana Total = 51 menit, 08 detik.

Setelah mengetahui durasi dari masing-masing fase, berikut beberapa jadwal waktu serta kontak dengan penumbra serta umbra di wilayah Indonesia baik Wilayah Indonesia Bagian Barat (WIB), Wilayah Indonesia Bagian Tengah serta Wilayah Indonesia Bagian Timur (WIT). Berikut jadwal setiap wilayah bagian :

Waktu Indonesia Bagian Barat
Kontak Awal Penumbra Bumi (P1) = 18:33:32 WIB
Kontak Awal Umbra (U1) = 19:45:42 WIB
Kontak Total Awal Umbra (U2) : 21:06:16 WIB
Puncak Gerhana = 21:31:49 WIB
Kontak Total Akhir Umbra (U3) = 21:57:24 WIB
Kontak Akhir Umbra (U4) = 23:17:58 WIB
Kontak Akhir Penumbra (P4) = 00:30:00 WIB
 


Waktu Indonesia Bagian Tengah 
Kontak Awal Penumbra Bumi (P1) = 19:33:32 WITA
Kontak Awal Umbra (U1) = 20:45:42 WITA
Kontak Total Awal Umbra (U2) = 22:06:16 WITA
Puncak Gerhana = 22:31:49 WITA
Kontak Total Akhir Umbra (U3) = 22:57:24 WITA
Kontak Akhir Umbra (U4) = 00:17:58 WITA
Kontak Akhir Penumbra (P4) = 01:30:00 WITA



Waktu Indonesia Bagian Timur
Kontak Awal Penumbra Bumi (P1) = 20:33:32 WIT
Kontak Awal Umbra (U1) = 21:45:42 WIT
Kontak Total Awal Umbra (U2) = 23:06:16 WIT
Puncak Gerhana = 23:31:49 WIT
Kontak Total Akhir Umbra (U3) = 23:57:24 WIT
Kontak Akhir Umbra (U4) = 00:17:58 WIT
Kontak Akhir Penumbra (P4) = 01:30:00 WIT


Apa Manfaat Kita Mengetahui Gerhana Bulan Total ?
Banyak sekali aktifitas yang bisa dilihat saat Gerhana Bulan Total dimulai dari beberapa orang menyaksikan dengan mata telanjang hingga yang memakai bantuan teleskop untuk astrofotografi dll. 

Gerhana Bulan menarik untuk diamati dan dipelajari, semisalnya untuk mengecek ketepatan perhitungan koordinat benda langit. Serta secara astronomi kita dapat mengetahui bahwa Gerhana Bulan berpengaruh akan gaya gravitasi Matahari dan Bulan terhadap Bumi yang menimbulkan pasang laut maksimum. 


Selain itu, fenomena GBT juga dapat dijadikan ajang bagi siswa untuk mencoba melakukan pengamatan serta pemotretan dan melakukan analisis pascapengamatan. Di antara aktivitas yang dapat dilakukan siswa adalah mengamati waktu-waktu kontak yang terjadi.

Ketika Bulan mulai memasuki kontak awal umbra sampai akhir umbra, banyak masjid yang mengumandangkan Allahu Akbar sebagai tanda kebesaran yang diperlihatkan. Di dalam Islam sendiri, ketika Gerhana Bulan sedang berlangsung bagi umat Islam yang melihat atau mengetahui gerhana tersebut di sunnahkan untuk melakukan Salat Gerhana Bulan (salat khusuf). 

 "Telah terjadi gerhana matahari pada hari wafatnya Ibrahim putra Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam. Berkatalah manusia: Telah terjadi gerhana matahari karana wafatnya Ibrahim. Maka bersabdalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam "Bahwasanya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Allah mempertakutkan hamba-hambaNya dengan keduanya. Matahari gerhana, bukanlah kerana matinya seseorang atau lahirnya. Maka apabila kamu melihat yang demikian, maka hendaklah kamu salat dan berdoa sehingga selesai gerhana." (HR. Bukhari & Muslim).

Terakhir, pertanda Gerhana Bulan sebenarnya juga di pakai untuk menandakan pertengahan Bulan Rajab yang akan segera hadir. Khususnya perhitungan ini bisa dipakai ketika Gerhana Bulan Total pada bulan Juni lalu. Bisa dikatakan, gerhana merupakan penjaga waktu dalam menentukan kejadian penting di Islam dalam mengkonfirmasi peristiwa-peristiwa sejarah di masa silam.

Bagaimana Cara Mengabadikan Gerhana Bulan Total ?
Untuk mendapatkan hasil yang sesuai diinginkan akan lebih baik bila pengambilan gambar Fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) ini menggunakan bantuan teleskop. Dengan adanya teleskop kita dapat memperbesar harga panjang fokus sistem keseluruhan, sehingga mampu memperbesar dan memperkuat cahaya objek tersebut. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika teleskop hanya di gunakan untuk melihat tanpa mengabadikan fenomena yang terjadi.

Bagi yang memilki DSLR (kamera yang dapat di atur bukaan lensanya), dapat menggunakan tabel di bawah ini sebagai acuan saat pemotretan. Perlu diketahui foto-foto sejenis kawah dari Bulan tidak dapat terlihat jelas saat gerhana nanti akibat dari kecerlangan Bulan itu sendiri saat memasuki bayangan Bumi..

Bagi yang ingin merekam seluruh fase dari gerhana bulan total nanti dapat mencoba teknik Multi Expose. Hal yang paling penting untuk dapat merekam semua fase dari gerhana adalah berharap keadaan langit yang akan selalu cerah tidak tertutup awan selama pemotretan berlangsung. Selain itu, persiapkan segala peralatan perekaman fase nanti seperti tripod yang kokoh agar menghasilkan gambar objek yang jelas (tidak blur), lensa yang sesuai dengan rentang waktu pemotretan serta perlu diperhatikan rentangan waktu tiap fase yang ingin di ambil di upayakan supaya gambar objek dari tiap fase tidak terlalu rapat ataupun terlalu renggang. Terakhir, berharap tidak sampai ketinggalan mendapatkan gambar objek paling penting dari keseluruhan fase yaitu saat Mid atau puncaknya.



Dimanakah Bisa Mengamati Gerhana Bulan Total ?
Gerhana Bulan Total di penghujung akhir tahun ini dapat disaksikan di berbagai tempat khususnya kawasan Asia dan Australia. Sedangkan di bagian Eropa  para pengamat tidak dapat melihat fase awal gerhana karena gerhana sudah dimulai sebelum Bulan terbit. Bisa dikatakan masih berada di bawah ufuk. Sedangkan untuk wilayah Amerika Selatan dan Antartika, GBT pada 10 Desember nanti tidak akan terlihat karena posisi bulan yang sudah terbenam.



Keterangan Gambar :
Eclipse at Moon Set : Gerhana pada saat Bulan terbenam, yaitu gerhana ini tidak akan terlihat benar-benar total karena Gerhana Bulan Totalnya terjadi ketika Bulan berada di bawah ufuk tepatnya sudah terbenam.
No Eclipse Visible : Gerhana tidak terlihat sama sekali, baik ketika Bulan akan memasuki penumbra Bumi.
Eclipse at Moon Rise : Gerhana pada saat Bulan terbit, yaitu wilayah ini tidak dapat menyaksikan kejadian atau proses seutuhnya. Hal ini dikarenakan Gerhana Bulan Total telah terjadi saat terbit.
All Eclipse Visible : Semua fase gerhana terlihat, hal ini yang akan kita rasakan khususnya di wilayah Indonesia. Kita dapat menyaksikan keseluruhan fase dari Gerhana Bulan Total (GBT).


Dilihat dari segi waktunya, hanya Indonesia bagian tengah dan barat saja yang bisa melihat gerhana ini dari awal hingga akhir. Sementara bagian timur Indonesia baru dapat melihat fenomena ini dimulai pukul 20:00:00 WIT dan berakhir lewat tengah malam. Bagian paling menarik dari gerhana ini, yaitu ketika Bulan berada di dalam bayangan umbra Bumi, dapat dilihat utuh dari awal hingga akhir dari seluruh Indonesia. Jadi jangan sampai ketinggalan dan abadikan fenomena ini sebagai cerita kepada yang lainnya melalui astrofotografi.



sumber :
wikipedia dan pertemuan rutin HAAJ tahun 2008.

 sudah dibaca?? Subhanallah yaa. Maha Suci Allah SWT. menciptakan fenomena seperti itu,


(QS. Al-A'raf 54)
إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ


nah ayat diatas menunjukan kebesaran Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mendampingi siang dengan malam. oleh karena itu marilah kita bersyukur atas semua yang terjadi.

Saya mengajak kepada anda semua pada esok hari :
1.Mari kita perbanyak Dzikir dan bertasbih
2.Mari kita bersama-sama sholat gerhana.
3.Banyak-banyak tadarus Al-Quran.


Semoga bacaan diatas bisa berguna bagi anda dan juga bisa memperkuat keimanan anda kepada Allah SWT. oia, jangan lupa komentarnya ya...

Stellarium - Simulasi Luar Angkasa

Kamis, 06 Oktober 2011

Stellarium adalah suatu program simulasi luar angkasa. menurut saya, aplikasi ini cukup lengkap untuk memuat nama-nama bintang, planet, nebula, dll. banyak sekali yang bisa anda ketahui disini. saya sudah pernah mencobanya ketika saya masih duduk dibangku smp dan berpresentasi tentang astronomi, yah alhamdulillah hasilnya pun bagus. bagi anda yang ingin melihat bagaimana gerhana bulan terjadi, disini terdapat simulasinya dan perhitungan waktunya pun sangat detil. tampilan langitnya pun sangat mendetail, hanya memang anda harus setting dulu dimana anda anda akan berpijak. misal dibandung atau dimana. kalo saya ceritain semuanya, ga rame dong? mending lihat sendiri.
oia, program ini saya sarankan bagi anda yang senang dengan astronomi dan matematik. insya allah sangat membantu seperti saya mengenalkan dan berpresentasi tentang ini didepan kelas.


untuk mendownload dan mengenal lebih lanjut tentang program ini, bisa anda lihat sendiri di website resminya, di:

Astronomi : Planet asing Massanya 2500 kali masa bumi

Senin, 15 Agustus 2011



Sebuah planet asing yang baru ditemukan para astronom di luar tata surya kita memiliki karakteristik yang luar biasa. Salah satu yang membuat takjub para peneliti, massanya diperkirakan mencapai 2500 kali massa Bumi.Namun, planet baru yang diberi nama HAT-P-2b ini mungkin tak layak dihuni makhluk hidup apalagi manusia. Betapa tidak, temperatur di permukaannya saja berkisar antara 1000 hingga 2000 derajat Celcius. Lagipula, gaya gravitasinya 15 kali lebih kuat dari gravitasi Bumi.Ibarat bumerang, planet tersebut melintas di orbitnya dengan sangat cepat. Untuk mengelilingi ’Matahari’-nya, planet HAT-P-2b hanya membutuhkan waktu 5.6 kali lama hari di Bumi. Lintasan orbitnya begitu melengkung. Jarak terdekat bintangnya sekitar 5 juta kilometer sedangkan jarak terjauh 15 juta kilometer. “Ada kemungkinan planet HAT-P-2b berinteraksi dengan planet lainnya yang belum diketahui para peneliti,” ungkap G�sp�r Bakos dari Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian di Cambridge, Massachusetts, AS.

Selain itu, planet tersebut mungkin sangat padat. Meski besarnya sedikit lebih besar dari Planet Jupiter, massanya delapan kali lipatnya atau setara dengan 2500 massa Planet Bumi. Ia benar-benar planet aneh.

“Planet ini sangat tidak umum sehingga awalnya kami menduga sebagai kesalahan alarm – sesuatu yang nampak seperti planet tetapi bukan,” ujar Bakos yang melaporkan temuan tersebut dalam Astrophysical Journal. Tetapi para peneliti berhasil menghapuskan kemungkinan lain sehingga yakin telah menemukan planet yang luar biasa.

Para peneliti mengamatinya menggunakan jaringan teleskop global HATNet yang memantau langit utara setiap malam untuk mencari planet-planet baru. Ciri-ciri planet mudah terdeteksi saat melintas di bidang cahaya bintangnya atau disebut peristiwa transit. Saat, planet tersebut melintas, bidang cahaya bintang HD 147506 di konstelasi Hercules yang terletak 440 tahun cahaya dari Bumi terlihat sedikit meredup. Teknik ini sangat umum dipakai untuk berburu planet-planet asing di luar tata surya kita.

Saat ini, ia tercatat sebagai planet gas terpadat yang pernah ditemukan di luar sistem tata surya kita. Secara teori, para astronom sudah memperkirakan adanya planet seperti ini sejak lama. Maka penemuan ini menjadi bukti bahwa planet seaneh itu memang benar-benar ada.

fenomena lubang hitam 2010

Jumat, 03 September 2010



Gagasan kalau lubang hitam dapat ada berasal dari seorang rektor universitas di Inggris bernama John Michell. Tahun 1783, beliau menghitung kalau gaya gravitasi yang dihasilkan sebuah bintang yang masif dapat mencegah cahaya lari dari permukaannya. Perhitungan Michell terlupakan selama 200 tahun. Baru tahun 1971 para ahli astrofisika menemukan kerlipan sinar X dari rasi Signus, 8 ribu tahun cahaya jauhnya : radiasinya mencirikan adanya lubang hitam yang mengelilingi sebuah bintang. Seperti lubang hitam lainnya, ia terbentuk saat bintang kehabisan bahan bakar dan runtuh dengan sendirinya. Bila matahari entah bagaimana menjadi lubang hitam, maka ia harus runtuh menjadi kurang dari lima kilometer saja, menjebak dalam ruang terbengkokkan yang melipatnya. Bila bumi yang menjadi lubang hitam, ia harus seukuran sebuah kelereng.


Lubang Hitam Cygnus X1

Lubang hitam pertama di alam semesta muncul hampir 14 miliar tahun lalu, menurut Abraham Loeb, astrofisikawan Universitas Harvard. Saat itu, gas mulai mengembun menjadi awan yang terpecah-pecah menjadi bintang-bintang masif, yang ukurannya bisa mencapai 100 kali ukuran matahari, yang pada gilirannya menjadi lubang hitam. Untungnya, pusingan dari galaksi-galaksi purba membatasi pertumbuhan lubang hitam di intinya, dan memungkinkan pembentukan bintang.


Para ahli fisika kini mulai membuat semacam lubang hitam di bumi. Para peneliti China misalnya, membangun silinder-silinder konsentrik yang meniru lubang hitam, membengkokkan radiasi gelombang mikro dengan dirinya sendiri saat ia melalui permukaan luar ke dalam. Dan sebuah lubang hitam nyata bisa saja muncul dari Large Hadron Collider di dekat Geneva.

Referensi

  1. Aamodt et al. First proton-proton collisions at the LHC as observed with the ALICE detector: measurement of the charged particle pseudorapidity density at s½ = 900 GeV. The European Physical Journal C, December 2009
  2. D. Garofalo, D. A. Evans, R. M. Sambruna. The evolution of radio-loud active galactic nuclei as a function of black hole spin. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, 2010;
  3. Edmund J. Hodges-Kluck, Christopher S. Reynolds, M. Coleman Miller, Chi C. Cheung. A Deep Chandra Observation of the X-shaped Radio Galaxy 4C +00.58: A Candidate for Merger-induced Reorientation? The Astrophysical Journal, 2010; 717 (1): L37
  4. Frolov, V.P., Novikov, I.D. 1998. Black Hole Physics: Basic Concepts and New Developments. Springer Science and Business
  5. Loeb, A., Ferrara, A., Ellis, R.S., Schaerer, D., Hempel, A. 2007. First Light in the Universe. Springer.
  6. Melia, F. 2003, The Black Hole at the Center of Our Galaxy. Princeton University Press
  7. Pakull, M.W., Soria, R., Motch, C. 2010. A 300 Parsec Long Jet Inflated Bubble Around A Powerful Microquasar in the Galaxy NGC 7793. Nature.
  8. Qiang Cheng, Tie Jun Cui, Wei Xiang Jiang and Ben Geng Cai. An omnidirectional electromagnetic absorber made of metamaterials. New Journal of Physics, 2010;
  9. Review of the Safety of LHC Collisions. Journal of Physics G: Nuclear and Particle Physics, September 5, 2008
  10. Thorne, K.S., Price, R.H., MacDonald, D.A. 1986. Black Holes: The Membrane Paradigm. Yale University Press
  11. University Of California – Santa Barbara (2001, November 1). Scientists Expect To “See” Miniature Black Holes. ScienceDaily. Retrieved August 16, 2010, from http://www.sciencedaily.com­ /releases/2001/11/011101060839.htm
  12. University of California – Santa Barbara (2008, June 30). If The Large Hadron Collider Produced A Microscopic Black Hole, It Probably Wouldn’t Matter. ScienceDaily. Retrieved August 16, 2010, from http://www.sciencedaily.com­ /releases/2008/06/080627175348.htm

murid SMP temukan Goa misterius di mars

Senin, 28 Juni 2010


Sekelompok murid kelas VII—setara kelas I sekolah menengah pertama—menemukan goa misterius di Planet Mars. Saat itu, mereka tengah mengerjakan proyek riset guna mempelajari citra yang diambil pesawat ruang angkasa NASA yang mengorbit di planet merah itu. Temuan itu berupa penampakan yang diduga merupakan lubang pada atap goa.

Keenam belas anak tersebut merupakan murid kelas sains dari Dennis Mitchell, guru kelas VII di Evergreen Middle School di Cotton Wood, California. Para murid itu tengah berpartisipasi dalam kegiatan Mars Student Imaging Program di Mars Space Flight Facility di Arizona State University.

Murid-murid diminta membuat semacam proposal riset dan kemudian diperbolehkan menggunakan kamera yang tengah mengorbit di Mars untuk mengambil gambar guna menjawab pertanyaan riset mereka.

Lubang yang mirip dengan temuan baru itu pernah ditemukan sebelumnya di bagian lain Mars pada 2007 oleh Glen Cushing, seorang ahli geologi asal Amerika. Cushing berpandangan, citra yang ditangkap itu menyerupai "lubang atap", tempat sebagian dari atap goa atau lubang aliran lava runtuh.

Liang itu diduga diakibatkan oleh aktivitas vulkanik di planet merah. Pada suatu masa, aliran lava keluar dari permukaan batuan dan meninggalkan bekas berupa liang setelah erupsi usai.

Ujung lubang itu tertutup oleh material yang mendingin dan sebagian "pipa" bekas aliran lava itu bisa saja ada yang ambruk.

Sejauh ini, para ilmuwan belum dapat memastikan jenis material yang tersimpan di dalam goa itu. "Lubang ini baru bagi kami para ilmuwan," ujar Cushing kepada para murid. Dia memperkirakan ukuran lubang itu 190 meter x 160 meter dan kedalamannya 115 meter.

Memburu aliran lava

Riset para murid itu bertujuan memburu pipa lava yang merupakan fenomena vulkanik di Bumi dan Mars.

"Mereka mengembangkan sebuah proyek riset dengan fokus menemukan lokasi "pipa" lava yang paling lazim di Mars. Apakah fenomena itu paling sering terjadi di puncak, sisi, atau dataran sekitar gunung," ujar Mitchell, guru mereka.

Mereka lalu meneliti sebuah foto utama dan cadangan dari Pavonis Monsvolcano (gunung) di Mars. Gambar itu diambil oleh alat penangkap citra Thermal Emission Imaging System (THEMIS) dari Odyssey, milik NASA yang sedang mengorbit. Foto cadangan yang mereka teliti malah memberikan kejutan: sebuah citra bundar gelap. Citra itu merupakan lubang di Mars yang mengarah kepada adanya goa terkubur di planet itu.

Temuan itu akan diperjelas lagi menggunakan kamera High Resolution Imaging Science Experiment (HiRISE) pada Mars Reconnaissance Orbiter. Alat itu bisa menampilkan lebih banyak detail guna melihat ke dalam lubang itu.

Merah Mars, Biru Regulus di Langit Hitam

Senin, 14 Juni 2010

Posisi Mars dan Regulus


Langit malam di bulan Juni akan menjadi pemandangan elok bagi astronom maupun warga biasa. Pasalnya, planet merah Mars dan bintang biru Regulus yang berada pada posisi terdekatnya bulan ini akan tampak sebagai bintang ganda yang bersinar terang di arah barat langit.

Antara tanggal 2-10 Juni, Mars dan Regulus berjarak 2,5 derajat satu sama lain. Konjungsi (jarak terdekat antara dua benda angkasa) akan terjadi pada 6 Juni, pada saat Mars hanya berjarak 0,8 derajat dari Regulus. Pada malam sesudahnya, jaraknya akan menjadi 0,9 derajat.

Mars akan bersinar pada magnitudo 1,2, yang berarti sedikit lebih terang daripada Regulus pada magnitudo 1,34 (semakin besar angkanya semakin kurang terang).

Pada awal bulan ini, Mars bergerak ke arah gugusan bintang Leo, di mana Regulus—bintang berusia 250 juta tahun dan berjarak 79 tahun cahaya dari Bumi—berada. Pada akhir Juli, Mars akan berada di selatan ekor sang Singa (Leo), mendekati lokasi bintang Denebola. Lalu pada bulan September, Mars akan kehilangan kecemerlangannya hingga magnitude 1,5 ketika jaraknya menjauh 322 juta kilometer dari Bumi.

Dengan mata telanjang dan dengan teropong, Anda bisa dengan mudah membedakan Planet Mars dan bintang Regulus. Mars, meski disebut planet merah, akan tampak oranye keemasan, sedangkan bintang Regulus bersinar putih kebiruan akibat fusi hidrogen menjadi helium di intinya.

Cara mengukur jarak keduanya di angkasa bisa menggunakan kepalan tangan kita sebagai sekstan. Kepalan tangan kita yang dihadapkan ke angkasa menunjukkan jarak sekitar 10 derajat busur di angkasa. (SPACE.com/ISW)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Al-Quran hari ini

Label

CS4 (1) Fenomena (24) Sains (21) android (1) astronomi (6) biologi (23) blog (8) browser (5) curhat (1) database (1) download (2) email (1) fisika (54) fitur (256) gadget (15) geografi (15) grafik (2) hacking (6) internet (50) iseng (1) islam (12) kimia (7) komputer (63) linux (1) matematika (16) praktikum (2) programming (16) s (1) sejarah (8) software (3) teknologi (57) tools (34) tugas (111) tutorial (6) windows (5)
 

© Copyright Dimas Zone 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.