News Update :

Temuan Arkeologi di Dieng dari Abad IX

Senin, 14 Juni 2010


Tim peneliti dari Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada menemukan puluhan pecahan kaca, keramik, dan gacuk di kawasan Candi Dieng, Jawa Tengah. Temuan itu penting untuk mengungkap hubungan perdagangan Mataram Kuno.

Ketua Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Inayah Adrisiyanti menuturkan, pecahan keramik China yang ditemukan diperkirakan berasal dari Dinasti Tang sekitar abad ke-9. Adapun pecahan kaca berwarna khas biru dan hijau diperkirakan dari Persia.

"Temuan itu sangat penting, karena menunjukkan ada kehidupan di luar ritus upacara di kawasan Dieng," kata Inayah, Sabtu (12/6/2010).

Kawasan Candi Dieng, yang terletak pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut dan berada di Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, dikenal sebagai kawasan religius. Sesuai namanya, Dieng ("di" berarti gunung atau tempat, dan "hyang" berarti dewa), di kawasan itu terdapat beberapa candi Hindu. Nama candi sesuai dengan tokoh wayang Purwa dalam Mahabarata, seperti Candi Arjuna, Candi Bima, Candi Semar, dan Candi Gatotkaca.

Tiga titik

Mahirta, dosen dan Ketua tim penelitian di kawasan percandian Dieng, mengatakan, proses ekskavasi temuan dilakukan di tiga titik, yaitu di sekitar tangga masuk Museum Dieng Kailasa, daerah sumur tua, dan bangunan Darmasala bagian barat.

Setelah dilakukan penggalian tanah dengan kedalaman 50-175 sentimeter, di tiga lokasi itu ditemukan pecahan keramik, gacuk (tiruan mata uang yang dipakai dalam upacara keagamaan), dan pecahan kaca.

Melihat karakteristiknya, lanjut Mahirta, pecahan keramik dan gacuk diduga berasal dari Dinasti Tang yang berkuasa di China bagian utara pada abad ke-9. "Keramik sejenis ditemukan pada kapal yang karam di sekitar perairan Belitung," kata Mahirta. Adapun pecahan kaca, dari warna dan karakteristiknya, diduga berasal dari Persia.

Penemuan tersebut, lanjut Mahirta, sangat penting karena memperkuat dugaan Mataram Kuno sudah menjalin perdagangan secara internasional yang melibatkan kawasan Timur Tengah dan China. Barang yang diperdagangkan, bahkan, masuk ke pedalaman, seperti dataran tinggi Dieng.

Arkeolog dari National University of Singapore, John Norman Miksic, mengatakan, selama ini peninggalan prasasti di Indonesia lebih banyak bercerita tentang agama dan pemerintahan. Aktivitas perdagangan sangat jarang disinggung sehingga data mengenai hal itu sangat minim. Padahal, aktivitas perdagangan internasional bisa jadi memiliki pengaruh besar bagi perkembangan kerajaan.

"Temuan ini memberikan data yang paling lengkap tentang luasnya jangkauan perdagangan saat itu," kata kata Miksic. (ARA)
Share this Article on :

2 komentar:

rafli pratama mengatakan...

Wah sejarah nih...

arfi mengatakan...

wah.. temuan yang inspiring banget..semoga dengan temuan ini bisa mengungkap sejarah indonesia di masa lampau yang belum kita ketahui sebelumnya...

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

© Copyright Dimas Zone 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.