News Update :

BPPT Desain kompor gas lebih aman? percaya?

Sabtu, 03 Juli 2010


Ledakan kompor gas 3 kg yang marak terjadi belakangan ini salah satunya disebabkan banyaknya persambungan antara tabung gas dan kompor. Terdapat tiga persambungan gas yang bisa memicu kobocoran pada tipe kompor gas yang beredar di masyarakat saat ini, yakni di persambungan antara katup tabung dan regulator, regulator dan selang, serta selang dan kompor.

Untuk meminimalkan kecelakaan akibat kebocoran tersebut, Badan Pengkajian Penerapan Teknologi atau BPPT membuat rancang desain kompor gas ukuran 3 kg yang lebih aman dengan titik persambungan yang lebih minim.

"Kompor gas 3 kg yang ada saat ini ada tiga persambungan. Nah, semuanya ini memiliki risiko kebocoran. Dengan desain yang baru ini hanya ada satu persambungan, artinya akan lebih mudah diawasi dan lebih aman," kata Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi BPPT Arya Rezavidi di Gedung BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (29/6/2010).

Dalam prototipe yang ditunjukkan kepada Kompas.com, desain kompor buatan BPPT itu tampak jelas berbeda dengan kompor yang ada saat ini. Jika pada kompor gas 3 kg yang ada saat ini memiliki kompor terpisah yang dipisahkan dengan regulator dan selang gas, maka kompor buatan BPPT bagian pembakaran atau kepala kompor langsung disambungkan ke tabung gas melalui regulator. Kompor ini tidak jauh berbeda dengan kompor gas kecil yang biasa dipakai saat berkemah.

"Dengan desain seperti ini sebetulnya lebih aman karena hanya ada satu persambungan. Dengan demikian, kompor mudah perawatan dan diawasi dari kemungkinan bocor," terang Reza.

Dalam pemakaian untuk memasak, kompor dan tabung gas ini bisa "dibungkus" dengan menggunakan badan kompor untuk menahan penggorengan atau panci.

"Mengenai posisi kepala kompor yang lebih dekat dengan tabung gas, kami jamin ini aman karena tabung gas ini tahan sampai 50 bar, artinya katup gas akan terlepas jika tekanannya lebih dari itu dan tidak akan bisa meledak," tutur Reza.

Menurut dia, rancang desain kompor ini sebenarnya sudah pernah diajukan ke Kementerian (dulu Departemen) Perindustrian dan Perdagangan pada tahun 2007 saat wacana konversi minyak tanah ke gas sedang digodok. "Namun, saat itu masih belum bisa diterima karena ada salah persepsi. Waktu itu ditakutkan posisi kepala kompor yang terlalu dekat dengan tabung bisa memicu ledakan. Padahal tidak dan justru sangat aman karena tahan tekanan tinggi," ujarnya.

Melihat kondisi banyaknya kecelakaan akibat kebocoran gas belakangan ini, Reza mengatakan bahwa desain kompor BPPT diharapkan bisa menjadi alternatif bagi pemerintah untuk menyediakan komponen memasak yang lebih aman.

"Pekan lalu kami sudah ajukan (desain dan prototipe) ke Wakil Presiden Boediono melalui Menristek. Saat ini masih dibahas kemungkinan revisi desainnya," kata dia.
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

© Copyright Dimas Zone 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.