News Update :

Timbulnya cinta dan jatuh cinta

Minggu, 03 April 2011

sedikit iseng aja ada yang gininya.. hhe.. kali-kali boleh kan.. :)

Setiap manusia pasti pernah jatuh cinta dan merasakan indahnya cinta. Mereka jatuh cinta tentu ada sebabnya. Mereka jatuh cinta bukan hanya kepada lawan jenis, tetapi bisa saja jatuh cinta pada pekerjaannya, ataupun jatuh cinta pada kondisi di mana ia tinggal. Tetapi kebanyakan manusia jatuh cinta pada lawan jenisnya. Mereka jatuh cinta tentu mempunyai alas an-alasan tertentu, misalnya jatuh cinta pada wanita yang tubuhnya sexy, rambutnya panjang, rajin dan cantik bahkan yang lainnya. Dan bila jatuh cinta pada pekerjaannya karena mudah untuk di kerjakan, karena hasil akhirnya seperti profit, gaji atau tunjangan besar. Tetapi apakah kita mengetahui apakah yang menimbulkan jatuh cinta? Jawaban tersebut hanya sedikit sekali yang mengetahui.

Dalam menjalani hidup sehari-hari, manusia tentu mempunyai cinta dan kasih sayang. Manusia hidup tanpa cinta, maka hidup tersebut tidaklah sempurna. Ada yang mengatakan cinta itu indah, ada juga yang mengatakan cinta itu buta. Memang benar jatuh cinta pada sesuatu atau seseorang itu bisa membuat seseorang itu menjadi baik dan bahkan bisa saja menjadi buruk. Misalnya seorang siswa SMA jatuh cinta pada seorang siswi SMA juga karena siswi tersebut pandai Matematika, siswa tersebut jatuh cinta karena ia ingin bisa Matematika atau sebaliknya ingin menjadikan siswi tersebut menjauhi Matematika.

Cinta itu tak semua orang bisa mengartikan. Hanya orang tertentu yang bisa mendefinisikannya. Tetapi bila dilihat dari cara ia jatuh cinta, misalnya karena kecantikannya, kepandaiannya, cinta bisa di definisikannya sebagai hawa nafsu. Cinta yang demikian itu merupakan cinta yang buta. Nah bagaimanakah cinta yang hidup itu? Cinta yang hidup itu timbul melalui tahapan-tahapan yang di jalani oleh sepasang lawan jenis.

Hampir setiap pemuda (laki-laki maupun perempuan) mempunyai dua tujuan yang utama. Pertama menemukan jenis pekerjaan yang sesuai dan kedua, menikah dan membangun sebuah rumah tangga. Hal ini tidak selalu harus muncul dalam aturan tertentu tetapi perlu di catat bahwa seorang remaja akan mengalami jatuh cinta didalam masa kehidupannya mencapai umur belasan tahun (Garrison,1956:483). Mulai saat itu laki-laki atau perempuan telah berangan-angan untuk menemukan pasangan hidup yang ideal. Hal ini tentu saja merupakan tugas yang amat berat. Gejala perilaku setiap orang yang jatuh cinta tidak selalu sama dan mungkin seseorang remaja telah mulai mempelajari peran seksual lebih baik dibandingkan remaja lain dan sebaliknya terdapat remaja yang belum mengetahui mengenai peran seksual yang sebenarnya.

Alasan atau factor yang mempengaruhi seseorang mengalami jatuh cinta bermacam-macam antara lain adalah factor kepribadian, factor fisik, factor budaya, latar belakang keluarga, factor kemampuan. Seperti pertimbangan yang dilakukan orang jawa, dalam penilaian pasangan dilihat dari tiga segi yaitu “bibit” atau factor keturunannya; “bebet” atau factor status social dan “bobot” atau factor ekonomi.

Para ahli ilmu jiwa social sependapat bahwa konsepsi yang menetukan saling tertariknya antara person relevan dengan upaya menciptakan hubungan yang akrab (intim) dan hal itu berlangsung dalam kurun waktu yang relative panjang. Hal ini ditentukan oleh banyak hal, antara lain adalah : penampilan masa kini,antisipasi masa depan, pertimbangan biaya, dan hal-hal yang berkaitan dengan peranan masing-masing pihak dalam mengawali dan menjaga hubungan satu sama lain (Levinger -1980),dalam Worchel dan Cooper, 1983 :279), Secord dan Backman (1974) menyatakan bahwa menciptakan hubungan yang intim, di capai melalui tiga tahap yaitu :

  1. Tahap eksplorasi

Yaitu menjajagi masalah-masalah yang berhubungan dengan pujian, atau penghargaan dan keuangan.

  1. Tahap penawaran

Yaitu dimana pasangan itu menjalin berbagai janji. Tidak ada ketentuan formal dalam perjanjian ini, tetapi yang muncul dan dianggap penting dalam hal ini adalah saling pengertian tentang latar belakang hubungan mereka.

  1. Tahap komitmen

Yaitu ditandai dengan saling ketergantungan masing-masing.

Disamping tiga tahap ini Backman mengajukan tahap keempat yang disebut institusionalisasi yang ditandai kesepakatan. Kesepakatan untuk hidup masa depan. Hal ini juga di tandai oleh pemahaman satu sama lain termasuk pemahaman pihak lain yang menyaksikan hubungan tersebut (dalam Worchel dan Cooper , 1983 :279). Hasil penelitian belum membedakan antara berbagai macam pendekatan tentang bagaimana mengenal tahap-tahap itu, hampir semua teori menyepakati adanya perubahan tentang cara pasangan itu saling beraktifitas untuk meningkatkan keakraban hubungan mereka.

Teori lain juga telah mendiskusikan adanya sedikit perbedaan pandangan tentang tahap-tahap yang ada dalam perkembangan keakraban hubungan antar remaja. Dari diskusi dapat diidentifikasikan perubahan-perubahan perilaku remaja dalam melakukan pergaulan dengan lawan jenis. Perubahan perilaku itu telah dikemukakan secara ringkas oleh Burgess dan Huston sebagai berikut :

  1. Mereka lebih sering berhungan dengan periode waktu yang agak lama.
  2. Mereka mencapai pendekatan bila berpisah dan merasa ada peningkatan hubungan bila bertemu kembali.
  3. Mereka terbuka satu sama lain tentang perasaan yang mereka rahasiakan dan secara fisik menunjukan keakraban.
  4. Mereka menjadi lebih terbiasa dan saling berbagi perasaan suka dan duka.
  5. Mereka mengembangkan system komunikasi mereka sendiri dan komunikasi itu meningkat lebih efisien.
  6. Mereka meningkatkan kemampuan masing-masing dalam merencanakan dan mengantisipasi kenyataan kehidupan dalam masyarakat nanti.
  7. Mereka menyinkronkan tujuan dan perilakunya dan mengembangkan pola interaksi yang cenderung tetap.
  8. Mereka meningkatkan investasi dalam hal hubungan dan memperluas lingkup kehidupan mereka yang penting.
  9. Mereka mulai demi sedikit merasakan bahwa interes mereka masing-masing merupakan ikatan yang tidak dapat dipisahkan demi kebaikan hubungan mereka.
  10. Mereka meningkatkan perasaan saling menyenangi, mempercayai dan mencintai demi kepentingan bersama.
  11. Mereka melihat hubungan tersebut sebagai yang tak tergeser atau setidak-tidaknya sebagai suatu yang unik.
  12. Mereka semakin akrab satu sama lain sebagai sejoli dan bukan sebagai individu.

Berkenaan dengan upaya untuk menetapkan pasangan hidup, perkembangan social psikologis remaja ditandai dengan upaya menarik lawan jenis dengan berbagai cara yang di tunjukkan dalam bentuk perilaku. Remaja laki-laki berupaya untuk mecapai posisi prestassi akademik dan atletik (olahraga) yang baik, sebab kedua hal itu merupakan gejala yang dinilai sebagai pertanda unggul dan menunjukkan kehebatan di antara sesama laki-laki. Sebaliknya bagi remaja wanita berupaya untuk menjadi seorang “orang wanita” yang baik. Upaya menjadi wanita yang baik itu diartikan sebagai “wanita yang dikenal baik” di mata laki-laki, maka seorang gadis perlu berperilaku baik sebagaimana diharapkan oleh laki-laki. Wanita perlu menjadi gadis yang “manis”, tidak terlalu hebat di bidang akademik, tidak terlalu banyak bicara di dalam kelas tetapi harus menjadi wanita yang sportif dihadapan seorang laki-laki.

Seringkali setiap remaja mulai merasakan jatuh cinta, ada perilaku yang berbeda yang muncul dari dalam dirinya baik remaja laki-laki maupun perempuan. Hal ini muncul karena remaja tersebut sudah mulai berfungsinya alat reproduksi dan emosinya mulai meningkat. Seringkali mereka bernyanyi, merenung bagaikan seorang artis, menyendiri sambil bernyanyi dengan lagu yang menyanjung, atau berpuisi seolah dia seorang pujangga muda. Biasanya remaja tersebut mencurahkan hatinya kedalam lagu ataupun puisi. Sebagai contoh :

  • Lagu Cinta

  • Puisi cinta

Tetapi seorang remaja yang sedang jatuh cinta bisa saja terjerumus dalam dosa, bila cintanya tidak di terima atau sang kekasih hatinya meninggalkan atau punya pacar yang lain. Tindakan yang dapat di lakukannya adalah bunuh diri dengan gantung diri, minum racun dan lain-lain, bahkan bisa saja remaja tersebut membunuh sang pujaan hatinya dengan tujuan agar tidak ada yang mencintai dia. Hal ini bisa terjadi Karena remaja tersebut belum mengetahui apa arti cinta yang sesungguhnya, dan kebanyakan remaja hanya mementingkan hawa nafsunya, seperti kecantikannya, kegagahannya, kepandaiannya, bahkan kekayaannya.

Remaja bisa mengetahui apa arti cinta yang sesungguhnnya jika dia mau berinteraksi dengan orang lain yang di dambakannya sebelum ia mengungkapkan perasaannya. Misalnya saling berkomunikasi satu sama lain dalam hal yang positif. Bila interaksi ini berjalan mulus, maka keduanya akan mengetahui apa arti cinta yang sesungguhnya.

Cinta itu datang dengan sendirinya, misalnya ketika melihat remaja yang cantik atau pria yang ganteng. Tetapi bila pertama kali kita jatuh cinta dengan seperti itu, merupakan bukan cinta. Mengapa demikian? Karena cinta itu proses berinteraksinya antara dua sejoli yang saling menyayangi, pengertian, dan memahami satu sama lain. Seorang remaja bisa saja mengenali siapa saja dalam satu kelas bahkan sampai buruk baiknya orang yang dikenalinya tersebut. Tetapi kebanyakan remaja hanya jatuh cinta kepada seseorang yang baru dikenalnya. Dengan alasan orangnya cantik, ganteng dll. Tetapi hal seperti itu salah. Kenapa ia tidak jatuh cinta kepada temannya yang sudah ia kenal lama dan sudah mengetahui seluk beluknya baik dan buruknya tingkah laku temannya. Banyak alasan remaja menganggap tidak baik mencintai seorang teman akrab. Padahal itulah jatuh cinta, remaja mengetahui baik dan buruknya seorang teman, saling pengertian, memahami, jadi tidak hanya paras yang cantik.

Banyak dikalangan remaja laki-laki berebut remaja perempuan karena parasnya yang cantik walaupun belum mengenalnya. Bahkan ada yang sampai berkelahi, adu jotos, bahkan saling bunuh membunuh. Sedangkan perempuan yang sudah di kenalnya dengan paras yang jelek di jauhinya.

Remaja yang baik dan mengerti tentu akan memperhatikan seluk beluk temannya baik dan buruknya. Remaja yang seperti itu mampu mengendalikan hawa nafsunya, yang tidak memandang cantik, ganteng atau jeleknya seseorang. Remaja seperti ini memandang dari segi akhlak, sikap, profesi, keluarga dan moralnya. Tetapi remaja yang seperti ini jumlahnya hanya sedikit. Kecenderungannya terdapat pada remaja yang memiliki latar belakang keluarga yang pandai, dan akhlak yang baik. Ada juga remaja yang memiliki cita-cita yang tinggi sehingga ia perlu mengenali calon pasangannya lebih dalam, walaupun keduanya sudah saling kenal dan saling cinta.

Share this Article on :

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

© Copyright Dimas Zone 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.